Sejarah
[sunting] Konfusianisme sebagai agama dan filsafat
Konfusianisme muncul dalam bentuk agama di beberapa negara seperti
Korea,
Jepang,
Taiwan,
Hong Kong dan
RRC. Dalam
bahasa Tionghoa, agama Khonghucu seringkali disebut sebagai
Kongjiao (孔教) atau
Rujiao (儒教).
Di zaman Orde Baru, pemerintahan Soeharto melarang segala bentuk aktivitas berbau kebudayaaan dan tradisi
Tionghoa
di Indonesia. Ini menyebabkan banyak pemeluk kepercayaan tradisional
Tionghoa menjadi tidak berstatus sebagai pemeluk salah satu dari 5 agama
yang diakui. Untuk menghindari permasalahan politis (dituduh sebagai
atheis dan
komunis), pemeluk kepercayaan tadi kemudian diharuskan untuk memeluk salah satu agama yang diakui, mayoritas menjadi pemeluk agama
Kristen atau
Buddha.
Klenteng yang merupakan tempat ibadah kepercayaan tradisional Tionghoa juga terpaksa mengubah nama dan menaungkan diri menjadi
vihara yang merupakan tempat ibadah agama Buddha.
Seusai
Orde Baru, pemeluk kepercayaan tradisional Tionghoa mulai mendapatkan
kembali pengakuan atas identitas mereka sejak UU No 1/Pn.Ps/1965 yang
menyatakan bahwa agama-agama yang banyak pemeluknya di Indonesia antara
lain Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha dan Khonghucu.
[sunting] Hal-hal yang perlu diketahui dalam agama Khonghucu
-
- Mengangkat Konfusius sebagai salah satu nabi (先知)
- Menetapkan Litang (Gerbang Kebajikan) sebagai tempat ibadah resmi, namun dikarenakan tidak banyak akses ke litang, masyarakat umumnya menganggap klenteng sebagai tempat ibadah umat Khonghucu.
- Menetapkan Sishu Wujing (四書五經) sebagai kitab suci resmi
- Menetapkan tahun baru Imlek, sebagai hari raya keagamaan resmi
- Hari-hari raya keagamaan lainnya; Imlek, Hari lahir Khonghucu (27-8
Imlek), Hari Wafat Khonghucu (18-2-Imlek), Hari Genta Rohani (Tangce)
22 Desember, Chingming (5 April), Qing Di Gong (8/9-1 Imlek) dsb.[1]
- Rohaniawan; Jiao Sheng (Penyebar Agama), Wenshi (Guru Agama), Xueshi (Pendeta), Zhang Lao (Tokoh/Sesepuh).
- Kalender Imlek terbukti di buat oleh Nabi Khongcu (Konfusius). Nabi
Khongcu mengambil sumbernya dari penangalan dinasti Xia (2200 SM) yang
sudah di tata kembali oleh Nabi Khongcu.
Tahun Zaman Nabi Khongcu Tahun Baru jatuh 22 Desember. 4 February
pergantian musim dingin ke musim semi. Jadi imlek bukan perayaan musim
semi. Perkiraan tanggal 1 imlek, rentang waktunya 15 hari kedepan dan 15
hari kebelakang dari 4 Pebruary tersebut.Tiap 4 atau 5 tahun sekali
ada bulan ke 13, untuk menggenapi agar perhitungan tersebut tidak
berubah.
[sunting] Ajaran Konfusius
Ajaran
Konfusianisme atau
Kong Hu Cu (juga:
Kong Fu Tze atau
Konfusius) dalam
bahasa Tionghoa, istilah aslinya adalah
Rujiao
(儒教) yang berarti agama dari orang-orang yang lembut hati, terpelajar
dan berbudi luhur. Khonghucu memang bukanlah pencipta agama ini
melainkan beliau hanya menyempurnakan agama yang sudah ada jauh sebelum
kelahirannya seperti apa yang beliau sabdakan: "Aku bukanlah pencipta
melainkan Aku suka akan ajaran-ajaran kuno tersebut". Meskipun orang
kadang mengira bahwa Khonghucu adalah merupakan suatu pengajaran
filsafat untuk meningkatkan
moral dan menjaga
etika manusia. Sebenarnya kalau orang mau memahami secara benar dan utuh tentang
Ru Jiao
atau Agama Khonghucu, maka orang akan tahu bahwa dalam agama Khonghucu
(Ru Jiao) juga terdapat Ritual yang harus dilakukan oleh para
penganutnya. Agama Khonghucu juga mengajarkan tentang bagaimana hubungan
antar sesama manusia atau disebut "Ren Dao" dan bagaimana kita
melakukan hubungan dengan Sang Khalik/Pencipta alam semesta (Tian Dao)
yang disebut dengan istilah "Tian" atau "Shang Di".
Ajaran falsafah ini diasaskan oleh
Kong Hu Cu yang dilahirkan pada tahun
551 SM
Chiang Tsai yang saat itu berusia 17 tahun. Seorang yang bijak sejak
masih kecil dan terkenal dengan penyebaran ilmu-ilmu baru ketika berumur
32 tahun, Kong Hu Cu banyak menulis buku-buku moral, sejarah,
kesusasteraan dan falsafah yang banyak diikuti oleh penganut ajaran ini.
Ia meninggal dunia pada tahun
479 SM.
Konfusianisme mementingkan akhlak yang mulia dengan menjaga hubungan
antara manusia di langit dengan manusia di bumi dengan baik. Penganutnya
diajar supaya tetap mengingat nenek moyang seolah-olah roh mereka
hadir di dunia ini. Ajaran ini merupakan susunan falsafah dan etika
yang mengajar bagaimana manusia bertingkah laku.
Konfusius tidak menghalangi orang Tionghoa menyembah keramat dan
penunggu tapi hanya yang patut disembah, bukan menyembah barang-barang
keramat atau penunggu yang tidak patut disermbah, yang dipentingkan
dalam ajarannya adalah bahwa setiap manusia perlu berusaha memperbaiki
moral.
Ajaran ini dikembangkan oleh muridnya
Mensius ke seluruh
Tiongkok dengan beberapa perubahan. Kong Hu Cu disembah sebagai seorang
dewa dan falsafahnya menjadi agama baru, meskipun dia sebenarnya adalah
manusia
biasa. Pengagungan yang luar biasa akan Kong Hu Cu telah mengubah
falsafahnya menjadi sebuah agama dengan diadakannya perayaan-perayaan
tertentu untuk mengenang Kong Hu Cu.
Legalisme
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Dalam
sejarah Cina,
Legalisme (
bahasa Tionghoa:
法 家;
bahasa Tionghoa:
Fǎjiā;
Wade-Giles: Fa-chia) adalah salah satu dari empat aliran utama
filsafat Cina pada
Periode Musim Semi dan Musim Gugur serta
Periode Negara Perang (tiga lainnya adalah
Konfusianisme,
Taoisme, dan
Mohisme). Periode ini (
770 SM-
221 SM) adalah zaman pertumbuhan besar kebudayaan dan intelektual di Cina yang menghasilkan
Seratus Aliran Pemikiran. Di bawah kepemimpinan
Li Si, legalisme versinya menjadi
ideologi dominan di Cina. Beberapa ahli menganggap versi legalisme Li Si merupakan salah satu ideologi
totalitarianisme paling awal
[1]. Legalisme adalah suatu
filsafat politik pragmatis yang tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan tingkat tinggi seperti alam dan tujuan kehidupan
[2]. Legalisme di sini memiliki pengertian "filsafat politik yang mengedepankan aturan
hukum", dan karenanya dibedakan dengan pengertian
Dunia Barat mengenai kata ini.
- Barbieri-Low, Anthony, trans. “The Standard Measure of Shang Yang (344 B.C.).” 2006.
- Creel, H.G. “The Totalitarianism of the Legalists.” Chinese Thought
from Confucius to Mao Tsê-tung. Chicago: The University of Chicago
Press, 1953.
- Duyvendak, J.J.L., trans. The Book of Lord Shang: A Classic of the Chinese School of Law. London: Probsthain, 1928.
- Graham, A.C., Disputers of the TAO: Philosophical Argument in Ancient China (Open Court 1993). ISBN 0-8126-9087-7
- Potter, Pittman, From Leninist Discipline to Socialist Legalism : Peng Zhen on Law and Political Authority in the PRC2 (2003). ISBN 978-0-8047-4500-0
- Pu-hai, Shen. “Appendix C: The Shen Pu-hai Fragments.” Shen Pu-hai: A
Chinese Political Philosopher of the Fourth Century B.C. Translated by
Herrlee G. Creel. Chicago: The University of Chicago Press, 1974.
- Qian, Sima. Records of the Grand Historian, Qin Dynasty. Translated by Burton Watson. New York: Columbia University Press, 1993.
- Schwartz, Benjamin I. The World of Thought in Ancient China. Cambridge, MA: The Belknap Press of Harvard University Press, 1985.
- Watson, Burton, trans. Han Fei Tzu: Basic Writings. New York: Columbia University Press, 1964.
- Xinzhong,Yao, Introduction to Confucianism (2000). ISBN 978-0-521-64312-2
Taoisme
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Laozi yang dilukiskan sebagai seorang dewa
Taoisme (
Tionghoa: 道教 atau 道家 ) juga dikenal dengan Daoisme, diprakarsai oleh
Laozi (老子;
pinyin:Lǎozǐ) sejak akhir
Zaman Chunqiu. Taoisme merupakan ajaran
Laozi yang berdasarkan
Daode Jing (道德經,
pinyin:Dàodé Jīng). Pengikut Laozi yang terkenal adalah
Zhuangzi (庄子) yang merupakan tokoh penulis kitab yang berjudul
Zhuangzi.
Taoisme adalah sebuah aliran filsafat yang berasal dari Cina. Taoisme
sudah berumur ribuan tahun, dan akar-akar pemikirannya telah ada
sebelum masa Konfusiusme. Hal ini dapat disebut sebagai tahap awal dari
Taoisme. Bentuk Taoisme yang lebih sistematis dan berupa aliran
filsafat muncul kira-kira 3 abad SM. Selain aliran filsafat, Taoisme
juga muncul dalam bentuk agama rakyat, yang mulai berkembang 2 abad
setelah perkembangan filsafat Taoisme.
Taoisme sebelum Dinasti Qin
Setelah berakhirnya
Zaman Chunqiu, Disaat
Zaman Berperangan
yang menjadikan Cina terbagi-bagi menjadi beberapa kerajaan yang
berbeda-beda, sehingga Shihuangdi menyatukan semua kerajaan tersebut dan
membentuk
Dinasti Qin. Sebelum
Dinasti Qin, Taoisme merupakan filsafat Laozi dan Zhuangzi, tapi bukan sebuah
agama. Taoisme yang mementingkan
kesehatan,
pernah mendiskusikan “hidup abadi” dalam konteks ajarannya, Taoisme
dijadikan dasar perkembangan kepercayaan manusia untuk menjadi
dewa dalam mencapai keabadian.
[1].
Agama Dao dan Daojia
Pada
zaman dulu, tidak adanya perbedaan antara agama Dao (道教) dengan
Daojia(道家). Saat ini, agama Dao(道教) tidak dibedakan dengan Daojia(道家),
kedua-duanya berarti Taoisme.
Pada era sekarang ini, agama Dao merupakan ajaran-ajaran Laozi-Zhuangzi
yang berkembang menjadi agama yang memiliki banyak penganut. Agama Dao
memiliki doktrin mistis yang berisikan kepercayaan untuk menjadi dewa,
agama ini lebih bersifat kemanusiaan, dan berpotensi memenuhi
keperluan rohaniah manusia. Dalam agama Dao, Laozi didewakan sebagai
Taishanglaojun (太上老君); kitab-kitab Daode Jing dan
Zhuangzi menjadi kitab suci dalam agama Dao.
Daojia adalah pusat pengkajian filsafat tentang
Daode Jing dan
Zhuangzi,
ajaran ini mengandung unsur mistisme yang tidak mendewakan apa-apa.
Daojia digolongkan kepada tiga generasi yaitu “Daojia sebelum Qin”
(先秦老庄道家),”Qin-han Daojia” (秦汉黄老道家), dan ”Wei-jin Daojia” (魏晋玄学道家).
Setelah generasi Wei-jin, Daojia tidak lagi berupa agama tersendiri,
tetapi digabungkan dalam ajaran agama Dao. Saat ini, ajaran tersebut
dikenal sebagai Taoisme.
[2]
Tokoh Sentral
Tokoh
sentral dari Taoisme adalah Lao Tzu. Mengenai biografinya, terdapat
sebuah pertanyaan mengenai kebenaran historis Lao Tzu. Ada berbagai
pihak yang memperdebatkan mengenai hal ini. Ada pihak yang menyatakan
Lao Tzu hanya tokoh rekaan, karena cerita-cerita mengenai dirinya
banyak yang tidak masuk akal. Di pihak lain, ada yang menerima semua
cerita dan tradisi mengenai Lao Tzu. Akan tetapi, ada juga pihak yang
tidak terlalu memperdebatkan mengenai Lao Tzu. Mereka menerima tokoh
Lao Tzu benar-benar ada, namun hal itu tidak terlalu penting untuk
dibicarakan. Mereka lebih suka membahas kitabnya dan isi pengajaran
Taoisme.
[3]
Sumber mengenai kehidupan Lao Tzu dapat dilihat dalam Shih Chi yang merupakan catatan sejarah dari Suma Chien.
[4]
Meskipun Suma Chien mengetahui ada konflik historis di dalan cerita
tersebut, namun ia tetap menulis apa adanya, karena ia tidak mengetahui
mana yang benar atau tidak.
[4]
Menurut tradisi Lao Tzu lahir kira-kira tahun 640 SM di negara Ch’u (provinsi Honan).
[5] Nama Lao Tzu dapat diterjemahkan sebagai “Putra Tua”, “Sahabat Tua”, ataupun “Sang Guru Tua”.
[5] Sebutan ini merupakan suatu gelar kecintaan dan penghormatan.
[5]
Menurut legenda, ia dilahirkan tanpa dosa sama sekali oleh sebuah
meteor; dan dikandung oleh ibunya selama delapan puluh dua tahun.
[5] Pekerjaannya adalah pemelihara arsip, dan bahwa dengan pekerjaannya itu ia hidup secara sederhana dan tidak banyak tuntutan.
[5] Kepribadiannya, hampir seluruhnya didasarkan pada sebuah buku kecil yang dianggap ditulis oleh beliau sendiri.
[5]
Sedih karena kecenderungan orang mengambil manfaat dari kebaikan yang
diajarkannya, serta berusaha mencari kedamaian pribadi yang lebih besar
pada usianya yang semakin lanjut, akhirnya Lao Tzu menunggang seekor
kerbau dan pergi ke arah Barat, yaitu yang sekarang disebut Tibet
(Lembah Hankao).
[5]
Sebelum pergi, ada seorang penjaga gerbang yang berusaha menahannya
agar tidak pergi. Karena usahanya gagal, ia meminta Lao Tzu untuk
meninggalkan suatu catatan mengenai pandangan Lao Tzu.
[5]
Kemudian Lao Tzu tinggal selama tiga hari, dan setelah itu ia kembali
dengan sebuah buku kecil yang berisi ± 5000 huruf Cina berjudul Dao De
Ching.
[5]
Lao Tzu juga dikatakan hidup satu zaman dengan Konfusius. Akan tetapi
dengan menyelidiki kitab Daode Ching, dapat disimpulkan bahwa hal
tersebut tidak mungkin, karena ada beberapa gagasan yang tidak mungkin
dikenal umum pada masa Konfusius.
[5] Kebanyakan ahli masa kini menyatakan Lao Tzu hidup ± 2 abad setelah Konfusius.
[5]
Ajaran Taoisme
Dao
Inti pengajaran Taoisme adalah
"Dao"
(道) yang berarti tidak berbentuk, tidak terlihat, tapi merupakan
proses kejadian dari semua benda hidup dan segala benda-benda yang ada
di alam semesta.
Dao yang berwujud dalam bentuk benda hidup dan kebendaan lainnya adalah
De
(德). Gabungan Dao dengan De dikenal sebagai Taoisme yang merupakan
landasan kealamian. Taoisme bersifat tenang, tidak berbalah, bersifat
lembut seperti air, dan bersifat abadi. Keabadian manusia terwujud
disaat seseorang mencapai kesadaran
Dao, dan orang tersebut akan
menjadi dewa. Penganut-penganut Taoisme mempraktekkan Dao untuk
mencapai kesadaran Dao, dan menjadi seorang dewa.
Taoisme juga memperkenalkan teori Yinyang (阴阳), dalam
Daode Jing Bab 42:
“道生一,一生二,二生三,三生万物。万物负阴而抱阳,冲气以为和"
Berarti:
Dao melahirkan sesuatu, yang dilahirkan itu melahirkan
Yin dan
Yang,
Yinyang
saling melengkapi untuk menghasilkan tenaga atau kekuatan. Kekuatan
tersebut bersumber dari jutaan benda di dunia. Setiap benda di alam
semesta yang berupa benda hidup ataupun benda mati mengandung
Yinyang yang saling melengkapi untuk mencapai keseimbangan.
Secara terminologi,
Yin dan
Yang diterjemahkan sebagai
negatif dan
positif.
Setiap benda bersifat dualisme yang terdiri dari unsur positif dan
unsur negatif. Benda yang tidak memiliki unsur negatif dan positif, itu
bermakna kosong dan hampa. Seperti halnya magnet, magnet mempunyai
unsur positif dan negatif, kedua-duanya bersifat saling melengkapi.
Magnet tanpa unsur positif, maka tidak terwujudnya unsur negatif. Itu
bermakna bahwa magnet tidak akan terwujud jika tidak memiliki kedua
unsur tersebut.
Kemudian Taoisme memiliki penekanan kuat terhadap keselarasan manusia
dengan Dao dan alam semesta. Dao dipandang mengatasi segala hal, baik
manusia maupun alam, dan sekaligus juga tersebar di dalam alam ini.
[6]
Dalam Taoisme dikatakan bahwa manusia harus hidup menurut tata cara
alam (Dao), memahami hakikatnya, dan hidup selaras dengannya.
[6]
Dao sebenarnya tidak dapat diberi nama, dan ia juga tidak dapat
dijelaskan dengan kata-kata. Dao yang sesungguhnya hanya dapat dipahami
dengan melalui kesadaran rohani manusia.
[6] Akan tetapi, untuk dapat memudahkan orang mengerti akan Dao ini, maka Dao harus dijelaskan dengan kata-kata.
[6] Dao secara harafiah dapat dikatakan sebagai "jalan setapak" atau "jalan".
[6] Untuk dapat lebih memahami "jalan" ini, maka ada tiga makna yang dapat dipelajari:
1. Tao adalah Jalan dari Kenyataan Terakhir Dao tidak dapat ditangkap
karena melampaui jangkauan panca indera. Dao melampaui segala pikiran
dan khayalan. Oleh sebab itu, kata-kata tidak akan dapat menjelaskan Dao
yang sesungguhnya.
[5]
Dao adalah yang maha besar dan merupakan azas totalitas segala benda
dan kehidupan. Dao adalah substansi yang mewujudkan segala benda,
termasuk makhluk hidup, juga merupakan sumber asal dari setiap awal dan
setiap akhir.
[6]
Makna Dao yang pertama dan terdasar ini dapat diketahui, hanya melalui
kesadaran mistik yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.
[5]
2. Tao adalah Jalan Alam Semesta Dao memiliki sifat transenden tetapi
juga imanen. Dao menjadi penggerak dari alam semesta ini, yaitu sebagai
kaidah, irama, dan kekuatan pendorong seluruh alam, dan juga sebagai
asas penata yang berada di belakang semua yang ada. Dao adalah roh yang
mendiami seluruh alam, sehingga ia menjadi “benda” dan bersifat imanen.
[5]
3. Tao adalah Jalan Manusia Menata Hidupnya Dao juga memberikan
petunjuk kepada manusia mengenai kehidupan yang seharusnya dijalani oleh
manusia supaya selaras dengan cara bekerja alam semesta ini.
[5] Hal ini berkaitan dengan ajaran-ajaran dan etika Taoisme lainnya.
Lambang Yin Yang
Lambang
Yin Yang yang paling populer adalah lambang Xiantian Taiji (先天太極圖) atau
Yinying Yu
(阴阳魚) diperkenalkan oleh Lai Zhide (來知德; tahun 1525~1604). Sejarah
pengkajian dan perkembangan lambang Yinyang dimulai pada masa
Dinasti Song
hingga abad ke-15. Lambang Taoisme yang lainnya adalah Chentuan (陳摶)
dan Chou Dunyi (周敦頤), popularitas kedua lambang ini kedudukannya setelah
popularitas lambang Xiantian Taiji . Lambang asli dari Taoisme adalah
lambang Wuji(無極圖) oleh Chentuan pada awal Dinasti Song, kemudiannya
dimajukan oleh Chou Dunyi yang memperkenalkan lambang Taiji (太極圖).
Pandangan tentang Wu Wei
Wu-wei dapat secara harafiah diterjemahkan dengan ‘tidak mempunyai kegiatan’ atau ‘tidak berbuat’.
[7]
Istilah ini sesungguhnya tidak berarti sama sekali tidak ada kegiatan,
atau sama sekali tidak berbuat apapun, melainkan berarti berbuat tanpa
dibuat-buat dan tidak semau-maunya.
[7] Karena wu-wei adalah sifat dasar kehidupan yang selaras dengan alam semesta.
[7] Bersikap dibuat-buat dan semau-maunya berlawanan dengan sikap kodrati atau sikap yang wajar.
[7]
Menurut teori Wu-wei, seseorang hendaknya membatasi
kegiatan-kegiatannya pada apa yang diperlukan dan apa yang kodrati atau
wajar.
[7] Seperti dalam mencapai tujuan tertentu, jangan sampai berbuat berlebihan atau melakukan upaya semau-maunya.
[7]
Dalam melakukan perbuatan ini, hendaknya orang mengambil kesederhanaan
sebagai prinsip hidup yang membimbingnya, sebab umat manusia mempunyai
terlampau banyak keinginan dan terlalu banyak pengetahuan.
[7]
Mereka mencari kebahagiaan dengan cara memenuhi keinginan mereka. Akan
tetapi, ketika mereka berusaha memenuhi terlampau banyak keinginan,
mereka memperoleh hasil yang sebaliknya.
[7]
Wu-wei adalah hidup yang dijalani tanpa ketegangan.
[5]
Wu-wei merupakan perwujudan yang murni dari kelemah-lembutan,
kesederhanaan, dan kebebasan; suatu kemampuan yang efektif, yang murni
di mana tidak ada gerak yang dihambur-hambur sekedar untuk dipamerkan ke
luar.
[5] Jika Wu-wei dilihat dari luar, terlihatlah ia tanpa daya, karena tidak pernah memaksa dan tidak pernah terlihat tegang.
[5] Rahasianya terletak pada cara mencari ruang kosong dalam hidup dan alam, dan bergerak melaluinya.
[5]
Chuang Tzu menjelaskan hal ini dengan ceritanya tentang seorang
pejagal yang pisaunya tidak pernah tumpul selama dua puluh tahun.
Sewaktu didesak untuk menjelaskan rahasianya, pejagal itu menjawab,
“Dari antara tulang-tulang pada setiap persendian selalu ada suatu
ruang.
[5]
Jika tidak demikian, tentu tidak akan ada gerakan. Dengan mencari
ruang ini dan meingisinya di situ, maka pisau saya dapat melalui
tulang-tulang itu tanpa menyentuhnya.”
[5]
Gejala alam yang paling mirip dengan Tao dalam pandangan para penganut Taoisme adalah air.
[5]
Mereka kagum dengan cara air yang dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungan sekitarnya dan mencari tempat-tempat yang terletak paling
rendah.
[5] Air juga mempunyai kekuatan yang mampu meluluhkan batu karang dan menghanyutkan bukit-bukit.
[5] Sifat luwes tak berhingga namun kokoh tanpa bandingan.
[5] Itulah kebajikan air dan demikian juga kebajikan dari Wu-wei.
[5]
Ciri yang terakhir adalah kejernihannya di saat ia tenang. Namun,
kejernihan hanya dapat tertangkap oleh mata batin jika kehidupan manusia
itu mencapai ketenangan yang diam dari suatu telaga yang dalam dan
hening.
[5]
Pandangan tentang Manusia
Menurut pandangan Taoisme, hidup manusia sudah digariskan oleh ‘langit’.
[6]
Manusia sudah memiliki jalannya masing-masing. Yang harus dilakukan
manusia hanya meneliti jalan itu dan mengikuti jejak itu tanpa coba
memaksakan pandangannya yang sempit, serta tanpa kehendak ingin
menyelewangkan diri dari yang alamiah demi keuntungan pribadi.
[6] Sikap semacam itulah yang disebut dengan Wu Wei, yang artinya tidak mencampuri.
[6] Wu-wei dapat juga diartikan ‘tidak berkeinginan’.
[6]
Manusia dalam pandangan Taoisme, harus menghilangkan keinginannya, dan
mengikuti jalannya proses alam tanpa mencampuri proses itu.
[6]
Menurut Taoisme, apabila manusia menjadi sombong dan melakukan hal di
luar kemampuannya, maka suatu saat dia akan mendapat celaan yang dapat
membuatnya berduka atau menderita.
[8]
Karena itu, seorang bijaksana yang mengenal Dao dan hukum alam akan
memilih mengundurkan diri dan menolak segala penghargaan yang diberikan
padanya. Ia memilih untuk tidak menonjolkan dirinya.
[8]
Meskipun demikian, Taoisme tidak mengajarkan bahwa seseorang harus
menyingkirkan seluruh harta benda yang dimiliki untuk mencapai
ketentraman batin.
[8]
Hal yang perlu dibuang adalah rasa kemelekatan terhadap harta
tersebut. Apabila harta dibuang namun masih ada kemelekatan terhadapa
harta tersebut, maka sia-sia saja.
[8] Karena itu buanglah kemelekatan terhadap harta dari diri manusia, dan harta benda harus digunakan untuk kepentingan sosial.
[8]
Dengan demikian manusia tidak akan merasakan penderitaan akibat
kehilangan harta. Seperti tertulis dalam Daode Ching Bab 2 ayat 11b:
“…Oleh karena tidak mempunyai apa-apa, maka dia tidak pernah kehilangan
apa-apa.”
[8]
Manusia yang mengikuti Dao tidak mencampuri hidup orang lain, dalam
arti ia tidak memaksakan orang lain membutuhkan, ia menolong mereka
menjadi bebas dengan mengikuti Dao.
[6] Manusia yang baik adalah yang mampu mengikuti jalannya alam semesta sesuai dengan Dao.
[6]
Jika manusia telah berhasil mengikuti jalan Dao, maka ia tidak perlu takut akan kematian.
[6]
Kematian adalah sebuah proses alam dan manusia tidak dapat melawan
alam, oleh karena itu manusia tidak perlu taku atau cemas terhadap
kematian. Kematian hanya mengembalikan manusia kepada Dao.
[6]
Etika Taoisme
Dalam menjalani kehidupan yang ada, manusia mengarah pada kehidupan yang alamiah tanpa adanya proses ikut campur.
[6]
Kehidupan yang alami inilah yang menjadi suatu kebajikan dasar yang
memicu munculnya tiga buah kebajikan lain yang menuntun manusia dalam
kehidupannya, yaitu lemah lembut, rendah hati, dan menyangkal diri.
[6] Kelemah-lembutan merupakan teman dari kehidupan, sebaliknya, kekerasan dan kekakuan adalah teman dari kematian.
[6] Rendah hati adalah sikap mampu membatasi diri dengan berbuat seperlunya saja.
[6]
Di dalam kitab Daode Ching dikatakan, “Tidak ada kutuk yang lebih
besar daripada merasa kurang puas. Tidak ada dosa yang lebih besar
daripada selalu ingin memiliki.”
[6]
Kemudian menyangkal diri adalah sikap menganggap diri dan hidup
manusia hanyalah sebagai pinjaman dari alam semesta kepada manusia.
[6]
Oleh karena itu, manusia yang bijaksana dan menginginkan hidup tenang
dan tenteram akan mempercayakan seluruh hidupnya kepada Dao atau alam
semesta.
[6]
Perkembangan ajaran yang berdasarkan paham Taoisme
Bidang-bidang
yang berkembang berdasarkan paham Taoisme, antara lain: Taiji, Qigong,
bidang kesehatan, Kimia, musik, dsb. Salah satu perkumpulan Taoisme di
Cina memiliki kumpulan kitab-kitab hasil kajian Taoisme. Kitab-kitab
tersebut berisikan rangkuman tentang ajaran asli Taoisme, peraturan
Taoisme, Qigong, kajian-kajian tentang kesehatan, Kimia, musik dsb.
[9]
Aliran-aliran Taoisme
Perkembangan Taoisme selama 2000 tahun ini, telah berkembang menjadi beberapa aliran Taoisme. Aliran-aliran tersebut adalah:
- Wudoumi Dao (正一盟威道 atau 五斗米道)
- Qingshui Dao(清水道)
- Tianxing Pai (天心派)
- Fulu Pai (符箓派)
- Lijia Dao (李家道)
- Shangqing Pai (上清派)
- Zhongxuanxie Pai (重玄学派)
- Jingming Dao (净明道)
- Taiyi Jiao (太一教 atau太乙道)
- Xuan Jiao (玄教)
- Wudang Pai (武当派)
- Zhong Pai (中派)
- Xi Pai (西派)
- Danding Pai (丹鼎派 atau 金 丹 道 教, Jindan Daojiao)
- Yujun Dao (于君道)
- Bojia Dao (帛家道)
- Lingbao Pai (灵宝派)
- Louguan Dao (楼观道)
- Lushan Pai (闾山派)
- Shengxiao Pai (神霄派)
- Dadao Jiao (大道教 atau 真大道教)
- Quanzheng Dao (全真道)
- Nanwu Pai (南无派)
- Longmen Pai (龙门派)
- Dong Pai (东派)